Ketergantungan Emosi

Posted on August 30, 2008

0


ketergantungan

Penulis : Lori Rentzel

Penerbit : VISI Press

Harga Retail : Rp 12.500,-   Harga Online Store : Rp 10.000,-

Persahabatan berbalik menjadi sesuatu yang merusak bila ketergantungan emosi menyusup ke dalam hubungan tersebut. Ketergantungan emosi terjadi bila kehadiran dan kepedulian seseorang secara terus menerus dianggap perlu untuk melindungi diri. Kepedulian seseorang dapat hadir dalam berbagai bentuk seperti, perhatian, kesediaan untuk mendengar, kekaguman, nasihat, dan waktu yang dihabiskan bersama-sama.

Pada mulanya mungkin kelihatan sangat indah, tetapi hubungan yang dibangun atas ketergantungan emosi akan mengarahkan kita pada suatu bentuk perbudakan bahkan lebih daripada yang pernah dibayangkan banyak orang. Walaupun dengan atau tanpa hubungan badan, dosa akan terjadi bila hubungan persahabatan memiliki ketergantungan. Kita memang mempunyai kebutuhan yang mendasar, yang diciptakan Tuhan bagi kita yaitu kebutuhan akan persekutuan yang akrab. Namun, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita telah memenuhi kebutuhan tersebut dengan benar? Adakah kiat-kiat tertentu untuk mengetahui bila kita sudah melampaui batas-batas yang mengarah pada ketergantungan emosi?

Untuk membedakan antara ketergantungan yang wajar yang terjadi pada persahabatan pada umumnya dengan suatu ketergantungan yang tidak wajar, mari kita lihat beberapa tanda yang mendahului terbentuknya ketergantungan emosi. Ketergantungan emosi dapat saja terjadi bila dalam hubungan tersebut, salah satunya:

  • Sering merasakan kecemburuan, posesif dan ingin diistimewakan, menganggap orang lain sebagai ancaman bagi hubungan mereka.
  • Lebih memilih untuk menghabiskan waktu hanya bersama dengan sahabatnya itu dan merasa frustrasi bila tidak bersamanya.
  • Menjadi marah atau depresi bila sahabat mengacuhkannya.
  • Tidak tertarik untuk membina hubungan dengan orang lain.
  • Mengalami perasaan romantis atau perasaaan seksual yang membuatnya berfantasi tentang sahabatnya itu.
  • Memberikan perhatian lebih sehubungan dengan penampilan, kepribadian, masalah dan minat sahabatnya.
  • Tidak mau membuat rencana apapun bila sahabatnya tidak diikutsertakan.
  • Tidak dapat memahami kekurangan sahabatnya.
  • Menunjukkan kasih sayang secara fisik yang lebih dari layaknya suatu persahabatan.
  • Selalu ingin bercakap-cakap dengan sahabatnya dan merasa bebas untuk mengatas-namakan sahabatnya itu.
  • Menunjukkan keintiman dan kekeluargaan dengan sahabatnya yang membuat orang lain merasa risih dengan kehadiran mereka.

Lebih lengkap dapat membeli buku ini di VISI Bookstore and Gallery atau di toko buku rohani lainnya